ASKEP AUTISME PADA ANAK PDF

There are numerous distinct types of ellipsis acknowledged in theoretical syntax. The researcher used qualitative method, is that in collecting the data the researcher did observation, interview, and documentation technique. Save time by spreading curation tasks among your team. Silfi Dia Pratiwi 8. La crisis asmatica es la emergencia medica mas comun en ninos. Hambatan yang dialami anak autis merupakan kombinasi dari beberapa gangguan perkembangan.

Author:Toramar Dairr
Country:Burma
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):23 December 2006
Pages:83
PDF File Size:3.30 Mb
ePub File Size:9.64 Mb
ISBN:427-3-56759-943-3
Downloads:40003
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zuluktilar



Sacharin, R, M, Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. Sacharin, R, M, : Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.

Behrman, Menurut Isaac, A autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas.

Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun Teramihardja, J, Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan stereotipik.

Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks.

Gangguasn neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus Suriviana, Menurut Dewo gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain: Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel — sel saraf dan sel otak Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi.

Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat — zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri.

Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat — zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya. Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu korteks. Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan.

Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.

Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan.

Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses — proses tersebut.

Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf.

Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak. Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu.

Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.

Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf di otak kecil pada autisme.

Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia jaringan penunjang pada sistem saraf pusat , dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder.

Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.

Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan.

Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori dan amigdala bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori. Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif.

Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme.

Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif. Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.

Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain. Interaksi sosial. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial. Bermain simbolik atau imajinatif. Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari 1 , 2 dan 3 dengan paling sedikit 2 dari 1 dan 1 dari masing-masing 2 dan 3.

Gangguan kualitatif interaksi sosial, muncul paling sedikit 2 dari gejala berikut : Gangguan yang jelas dalam perilaku non — verbal perilaku yang dilakukan tanpa bicara misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai. Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain. Kurangnya interaksi sosial timbal balik. Gangguan kualitatif komunikasi, paling sedikit satu dari gejala berikut : Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.

Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah stereotipik , yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut : Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.

Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks. Preokupasi terhadap bagian dari benda. Sekitar persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan.

Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis. Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur. Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 D2.

Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri. Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual alam perasaan , gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi.

Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis.

Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi kasein dan gluten , pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus.

Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya terhadap rasa tidak percaya 2. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan 3. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu, fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberkulosa sclerosis, anoksia selama kelahiran dan sindroma fragilis X 4. Deprivasi ibu 5.

Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai 6. Gangguan konsep diri 2. Tidak adanya orang terdekat 3. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya 4. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X 5.

Deprivasi ibu 6. Ketidakmampuan untuk mempercayai 2. Penarikan diri dari diri 3. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X 4.

Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan 2. Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya 3. Deprivasi ibu 4.

ACTUALISM AND POSSIBLE WORLDS PLANTINGA PDF

ASKEP AUTISME PADA ANAK PDF

Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan autisme b. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. Sacharin, R, M, : Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan. Behrman, Autisme menurut Rutter adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi umur 30 bulan , hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif. Sacharin, R, M, Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif DSM IV, sadock dan sadock Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan mengembangkan hubungan antar pribadi umur 30 bulan ,hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas. Perbandingan laki-laki dari wanita Penyakit sistemik, infeksi dan neurologi kejang dapat menunjukan gejala seperti austik.

HARRY ROSEMARY TIMPERLEY PDF

Sacharin, R, M, Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. Sacharin, R, M, :

ANSI C BALAGURUSWAMY 4TH EDITION PDF

Menurut John Rendle, : , gambaran klinis dari Autisme adalah : 1. Anak dikira tuli atau buta, kemudian terbukti tidak. Tes PEP — R Tes ini digunakan untuk anak Autistik yang terganggu perkembangannya dan dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan-7 tahun. Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti imitasi, persepsi, keterampilan motorik halus, keterampilan motorik kasar, koordinasi mata dan tangan, performasi kognitif, dan kognisi verbal. Tes PEP-R juga dapat mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan, dan minat terhadap benda dan respon pengindraan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam menangani anak Autistik.

Related Articles