ANEMIA APLASTIK PADA KEHAMILAN PDF

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia aplastik, yaitu: Pemakaian obat-obatan seperti kloramfenikol dalam jangka panjang Menderita penyakit lain seperti paroxysmal nocturnal hemoglobinuria Infeksi hepatitis baru Penyakit autoimun seperti lupus atau artritis reumatoid Riwayat keluarga dengan penyakit anemia aplastik Diagnosis anemia aplastik Diagnosis perlu dilakukan oleh dokter spesialis hematologi, yakni dokter yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dan kelainan darah. Berikut ini adalah prosedur dan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis. Menanyakan riwayat penyakit: Dokter dapat menanyakan hal-hal seperti adanya tanda dan gejala anemia yang dirasakan, kondisi pasien yang mudah memar dan mengalami perdarahan, konsumsi obat-obatan tertentu, prosedur radiasi dan kemoterapi, serta tanda-tanda infeksi seperti demam. Selain itu, dokter biasanya menanyakan informasi tentang riwayat keluarga dengan anemia maupun kelainan darah.

Author:Shakaktilar Tygozil
Country:Romania
Language:English (Spanish)
Genre:Life
Published (Last):8 February 2011
Pages:128
PDF File Size:16.1 Mb
ePub File Size:12.17 Mb
ISBN:251-1-57022-123-3
Downloads:45508
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kilmaran



Anemia adalah berkurangnya hingga dibawah nilai normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed red blood cell hematokrit per ml darah. Anemia Gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin Hb dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb. Anemia terjadi karena kadar hemoglobin Hb dalam darah merah sangat kurang. Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan.

Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Anemia Megaloblastik : Defisiensi folat atau vitamin B12 mengakibatkan gangguan pada sintesis timidin dan defek pada replikasi DNA , efek yang timbul adalah pembesaran prekursor sel darah megaloblas di sumsum tulang, hematopoiesis yang tidak efektif, dan pansitopenia.

Anemia Aplastik : Sumsum tulang gagal memproduksi sel darah akibat hiposelularitas, hiposelularitas ini dapat terjadi akibat paparan racun, radiasi, reaksi terhadap obat atau virus, dan defek pada perbaikan DNA serta gen. Anemia Mieloptisik : Anemia yang terjadi akibat penggantian sumsum tulang oleh infiltrate sel-sel tumor, kelainan granuloma , yang menyebabkan pelepasan eritroid pada tahap awal. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi perubahan - perubahan dalam darah dan sumsum tulang.

Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Namun bertambahnya sel-sel darah adalah kurang jika dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita hamil. Pengenceran ini meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hipervolemia tersebut, keluaran jantung juga meningkat.

Kerja jantung ini lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kebutuhan ibu selama kehamilan adalah mg besi, di mana mg untuk janin plasenta dan mg untuk pertambahan eritrosit ibu.

Terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan anemia defisiensi besi, misalnya: infeksi kronik, penyakit hati, dan thalasemia. Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Di samping itu, hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian pada ibu pada persalinan yang sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.

Anemia dalam kehamilan juga memberikan pengaruh kurang baik bagi hasil pembuahan konsepsi seperti: kematian mudigah, kematian perintal, bayi lahir prematur, dapat terjadi cacat bawaan, dan cadangan besi yang kurang. Sehingga anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial kematian dan kesakitan pada ibu dan anak. Anema dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut: anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia hipoplastik, dan anemia hemolitik.

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. Anemia akibat kekurangan zat besi ini disebabkan kurang masuknya unsur bagi dalam makanan, gangguan penyerapan, gangguan penggunaan, dan karena terlalu banyak zat besi keluar tubuh, misalnya pada perdarahan.

Anemia defisiensi besi pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita diseluruh dunia terutama di negara berkembang Indonesia. Keperluan terhadap zat besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester terakhir.

Apabila masuknya zat besi tidak ditambah dalam kehamilan, maka akan sangat mudah untuk terjadinya anemia defisiensi besi, terutama pada kehamilan kembar. Untuk daerah khatulistiwa seperti Indonesia, zat besi lebih banyak keluar melalui air peluh dan melalui kulit. Secara klinis dapat dilihat tubuh yang pucat dan tampak lemah malnutrisi. Gejala lain yang dapat ditemui diantaranbya palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neuromuskular, disphagia, dan pembesaran kelenjar limpa.

Guna memastikan seorang ibu menderita anemia atau tidak, maka dikerjakan pemeriksaan kadar hemoglobin dan pemeriksaan darah tepi.

Pemeriksaan hemoglobin dengan spektrofotometri merupakan standar. Hanya saja alat ini tersedia di kota. Mengingat di Indonesia penyakit kronik seperti malaria dan TBC masih sering dijumpai, maka pemeriksaan khusus seperti darah tepi dan dahak perlu dilakukan. Pada daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi dan dengan tingkat pemenuhan nutrisi yang minim, seperti di Indonesia, setiap wanita hamil haruslah diberikan sulfas ferosus atau glukonas ferosus sebanyak satu tablet sehari selama masa kehamilannya.

Selain itu perlu juga dinasehatkan untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin. Klasifikasi anemia pada ibu hamil ini berdasarkan penyebab terjadinya anemia tersebut. Secara umum menurut Proverawati klasifikasi anemia pada ibu hamil dibagi menjadi: 1. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan.

Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnese. Hasil anamnese didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan metode sahli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III.

Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat pteryglutamic acid dan defisiensi vitamin B12 cyanocobalamin walaupun jarang. Menurut Hudono tablet asam folat diberikan dalam dosis mg, apabila disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dengan dosis mikrogram sehari, baik per os maupun parenteral.

Menurut penelitian, ibu hamil dengan anemia paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi Fe serta asam folat dan viamin B Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil dengan anemia pada dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak mengandung protein, zat besi Fe , asam folat, dan vitamin B Pemeriksaan hemoglobin secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia.

Klasifikasi menurut Depkes RI : 1. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat.

Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Adapun etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan menurut Amiruddin,dkk tahun diantaranya sebagai berikut: 1.

Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah 2. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma 3. Kurangnya zat besi dalam makanan 4. Kebutuhan zat besi meningkat 5. Gangguan pencernaan dan absorbsi 2. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging terutama daging merah seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan.

Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi 2.

Tiap tablet mengandung FeSO4 mg zat besi 60 mg dan asam folat ug, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyarapannya. Anemia defisiensi besi yang tidak tertangani dengan tepat, dapat mengakibatkan abortus pada kehamilan muda, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan persalinan lama, perdarahan pasca melahirkan, dan infeksi.

Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit.

Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya Medicastore,

LIBERACION Y SANIDAD INTERIOR GUILLERMO MALDONADO PDF

Anemia Aplastik: Penyebab, Gejala, & Obat

Sering mimisan dan berdarah pada gusi Hepatosplenomegali Muncul luka memar pada kulit yang tidak diketahui penyebabnya Mudah mengalami perdarahan Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini untuk mencegah terjadinya anemia aplastik adalah: Mencuci tangan secara teratur, terutama setelah beraktivitas di luar ruangan. Mengurangi olahraga berat guna menurunkan risiko perdarahan karena kontak fisik. Beristirahat secara cukup bila perlu. Menghindari kerumunan masyarakat umum agar tidak mudah tertular penyakit. Bagaimana cara mengobati penderita Anemia Aplastik? Diagnosis Untuk mendiagnosis anemia aplastik, dokter akan menanyakan rincian riwayat medis serta gejala-gejala yang dialami. Bila hasil tidak mencukupi, beberapa tes penunjang akan dilakukan termasuk: Pemeriksaan darah.

ZIVORAD MIHAJLOVIC SLAVINSKI KNJIGE PDF

Klasifikasi dan penatalaksanaan Anemia

Untuk dapat mengatasi anemia aplastik dengan tepat, maka harus lebih dulu mengenali setiap kemungkinan faktor di bawah ini. Kemoterapi Efek samping kemoterapi salah satunya adalah anemia aplastik. Maka setiap pasien kanker yang mengikuti prosedur pengobatan kemoterapi otomatis berkemungkinan atau berisiko tinggi mengalami anemia aplastik. Pengobatan dengan sistem kemoterapi ini bisa juga berbahaya untuk kesehatan karena beberapa efeknya cukup mengganggu. Namun sebenarnya, setelah proses kemoterapi berhenti diikuti, maka efek sampingnya pun biasanya akan hilang juga sehingga kondisi anemia aplastik pun diharapkan tak cukup mengancam.

COBOL MURACH PDF

Anemia Aplastik

Pengidap anemia aplastik dapat mengalami gejala berikut saat dalam keadaan defisit sel darah putih : Demam. Mudah sakit atau mengalami infeksi berulang. Jika jumlah platelet rendah, maka tubuh akan mengalami: Mudah memar. Perdarahan, seperti mimisan atau perdarahan gusi Diagnosis Anemia Aplastik Untuk menegakkan diagnosis anemia aplastik, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik.

Related Articles